Beberapa orang pandai menyembunyikan perasaan, terlihat bagus dari luar, meski hatinya menangis. Para peneliti baru-baru ini dapat secara akurat menentukan tingkat keparahan depresi berdasarkan cara berbicara.

Dalam studi tersebut, yang diklaim sebagai yang terbesar di dunia, peneliti menemukan bahwa pidato sulit dipalsukan ketika seseorang mengalami depresi. Perubahan bicara dapat digunakan untuk mengukur tingkat keparahan depresi yang dialami.

Adam Vogel, kepala Speech Neuroscience Unit di University of Melbourne, mengatakan cara dia berbicara adalah penanda yang sangat kuat untuk kesehatan otak. Berbagai perubahan yang terjadi dalam cara berbicara dapat menunjukkan seberapa baik otak bekerja.

“Cara untuk berbicara tentang orang yang mengalami depresi berubah dan dipengaruhi oleh terapi yang diberikan, itu menjadi lebih cepat dengan istirahat yang lebih pendek,” kata Vogel dalam laporannya di jurnal Biological Psychiatry, dikutip oleh Medindia, Selasa (21/8/2012) ).

Dalam penelitian ini, Vogel melakukan pengamatan terhadap 105 pasien yang menjalani perawatan untuk menyembuhkan depresi. Beberapa hal yang diamati adalah waktu, nada dan nada, yang kemudian dibandingkan dengan hasil studi psikologis.

Pasien diminta untuk memanggil mesin penjawab otomatis. Beberapa diminta untuk berbicara tentang sesuatu, untuk mengekspresikan perasaan mereka, dan yang lain hanya diminta untuk membaca teks sehingga mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus dibicarakan.

“Temuan ini memungkinkan psikolog untuk memeriksa pasien dari jarak jauh lebih fleksibel dengan hanya mendengarkan pola dan cara berbicara, bahkan dari tempat yang sangat terpencil atau di desa,” kata James Mundt dari Pusat Konsultasi Psikologis di Wisconsin.